Kegagalan menyakitkan Argentina di Piala Dunia 1998. Meski diperkuat banyak pemain hebat, pelatih Daniel Passarella membuat keputusan kontroversial dengan mencoret beberapa bintang. Argentina tampil bagus di fase grup dan berhasil menyingkirkan Inggris lewat adu penalti di babak 16 besar. Namun, di perempat final melawan Belanda, kartu merah untuk Ariel Ortega jadi titik balik, dan gol Dennis Bergkamp di akhir laga mengakhiri perjalanan dramatis Argentina.
Seorang pemain memprovokasi lawan yang baru mendapat kartu merah dengan selebrasi berlebihan dan menolak uluran tangan sang lawan. Tindakannya dianggap tidak sportif dan menuai kritik warganet.
Cedera Bernd Leno pada 2020 membuka jalan bagi Emiliano MartÃnez, kiper pelapis yang sudah 10 tahun diabaikan Arsenal. Ia tampil luar biasa, menjuarai Piala FA, lalu bersinar di Aston Villa dan akhirnya menjadi pahlawan Argentina di Copa América 2021 dan Piala Dunia 2022. Dari bayangan bangku cadangan, lahirlah seorang juara dunia.
Neymar tampil gemilang di final Copa América 2021 melawan Argentina, menunjukkan skill dan determinasi tinggi meski terus dilanggar dan peluang-peluangnya disia-siakan rekan setim. Meski berjuang keras, Brasil kalah 1-0 dan Neymar harus menerima kekalahan dengan penuh emosi.
Dalam laga Tunisia vs Serbia & Montenegro di Olimpiade Athena 2004, terjadi salah satu momen paling gila dalam sejarah sepak bola: penalti Mohamed Jedidi harus diulang hingga enam kali karena pelanggaran encroachment dari kedua tim. Tiga golnya dianulir, dua penyelamatan kiper pun sia-sia. Baru pada percobaan keenam, golnya akhirnya sah dan membantu Tunisia menang 3‑2. Sebuah kisah nyata yang lebih absurd dari fiksi.
Sergio Ramos kini hanya akan memberikan tanda tangan jika ia tahu nama penggemarnya, sebagai cara untuk mencegah jersey bertanda tangannya dijual kembali. Ia pernah dituduh pilih-pilih klub saat menandatangani jersey, dan dengan metode ini ia memastikan tanda tangan hanya diberikan untuk kenang-kenangan pribadi.